PASTIBERITA – Upaya mendongkrak produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat terus digencarkan. Sebanyak 118 pekebun asal Kabupaten Empat Lawang mengikuti pelatihan budidaya sawit yang digelar di Palembang, 14–19 Juli 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Beston ini merupakan kolaborasi IPB Training bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.
Pelatihan difokuskan pada peningkatan keterampilan teknis pekebun agar mampu menerapkan praktik budidaya yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Empat Lawang, Hendra Lezi, menegaskan sektor kelapa sawit masih menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat setempat. Selain menyerap tenaga kerja, komoditas ini juga memberikan pemasukan rutin bagi petani.
“Panen sawit bisa dilakukan setiap dua minggu, sehingga menjadi sumber pendapatan yang relatif stabil bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam empat tahun terakhir, lanjut Hendra, luas perkebunan sawit rakyat di Empat Lawang terus meningkat dan kini mencapai sekitar 7.000 hektare. Produksi pun menunjukkan tren positif, dengan capaian 12.120 ton pada 2025, meski masih tertinggal dibanding daerah lain di Sumatera Selatan. Di tingkat nasional, Indonesia tetap menjadi produsen minyak kelapa sawit terbesar dunia.
Ketua Kelompok Pemberdayaan dan Kelembagaan Direktorat Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Ditjen Perkebunan Kementan, Mula Putra, menyebut luas perkebunan sawit nasional telah mencapai 16,8 juta hektare dengan produksi sekitar 48 juta ton crude palm oil (CPO) per tahun.
Namun, ia mengakui produktivitas perkebunan rakyat masih menjadi pekerjaan rumah. Dari total 42 persen luas kebun sawit nasional yang dikelola rakyat, produktivitasnya baru berkisar 3,3–3,5 ton CPO per hektare per tahun, atau masih jauh dari potensi optimal 5–6 ton.
“Sumatera Selatan sebagai salah satu sentra sawit nasional memiliki peran penting. Luas kebunnya sekitar 1,4 juta hektare, tapi produktivitasnya masih perlu terus ditingkatkan,” katanya.
Untuk itu, pemerintah mendorong berbagai langkah strategis, mulai dari program peremajaan sawit rakyat (PSR), penyediaan sarana prasarana, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan.
Melalui kegiatan ini, para pekebun diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan teknik budidaya yang tepat di lapangan. Dengan begitu, produktivitas meningkat dan kesejahteraan petani sawit pun ikut terangkat.(ril)








