PASTIBERITA – Di perbatasan Desa Simpang Tais dan Simpang Raja, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI, berdiri sebuah batching plant milik PT. Adipati Raden Sinun. Alih-alih membawa harapan pembangunan, keberadaan alat pengaduk cor beton itu justru memantik keresahan warga.
Sejak beberapa pekan terakhir, mobilisasi angkutan hotmix dan aktivitas batching plant yang tengah mengerjakan proyek pengecoran jalan Simpang Raja–Simpang 4 Benakat Timur menimbulkan deru bising, debu beterbangan, hingga sisa adukan cor yang tercecer di jalan. Bagi warga sekitar, suasana pemukiman yang semestinya tenang berubah menjadi riuh penuh gangguan.
Ujang, salah satu warga, mengaku tak lagi nyaman dengan aktivitas proyek tersebut.
“Debu dan bising sudah pasti timbul dari adanya aktivitas pekerjaan itu. Kami minta pihak perusahaan memindahkan lokasi batching plant. Karena berada di tengah-tengah pemukiman warga, persis di pinggir jalan raya,” keluhnya, Rabu (6/5/2026).
Keluhan serupa juga disampaikan Doni. Ia menyoroti aspek keselamatan lalu lintas.
“Jalan lintas ini cukup ramai. Sesuai SOP, proyek di atas Rp 1 miliar harus menempatkan petugas untuk mengatur arus lalu lintas. Kalau tidak, risiko kecelakaan bisa meningkat,” tegasnya.
Di sisi lain, Budi, perwakilan PT. Adipati Raden Sinun, menyebut dirinya hanya menjalankan perintah atasan.
“Untuk izin dan lokasi batching plant itu wewenang kantor. Kami hanya pekerja. Kalau SOP pengaturan lalu lintas diperlukan, akan kami sampaikan ke manajemen,” ujarnya.
Budi menambahkan, mobilisasi angkutan hotmix sebenarnya terbatas. “Hanya dua angkutan, paling cepat satu jam sekali keluar masuk. Kapasitas batching plant pun hanya 18 mobil per hari,” jelasnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten PALI, Dr. Ariansyah, menegaskan bahwa izin Dokumen Lingkungan (Doklin) batching plant tersebut belum ada.
“Izin Doklin tidak ada. Untuk izin operasional lainnya itu wewenang DPMPTSP. Namun keberatan warga akan segera kami tindak lanjuti, karena menyangkut kenyamanan masyarakat dan dampak lingkungan,” tegasnya.
Kehadiran batching plant di tengah pemukiman warga PALI kini menjadi dilema klasik: pembangunan versus kenyamanan. Jalan baru memang menjanjikan akses lebih baik, tetapi debu, bising, dan risiko keselamatan lalu lintas tak bisa diabaikan.
Warga berharap pemerintah dan perusahaan segera duduk bersama mencari solusi. Sebab, pembangunan seharusnya menghadirkan kesejahteraan, bukan menambah beban kehidupan sehari-hari.(smsi pali)








