Beranda Palembang Produktivitas Sawit Rakyat OKU Berpeluang Naik, Pekebun Diminta Maksimalkan Lahan

Produktivitas Sawit Rakyat OKU Berpeluang Naik, Pekebun Diminta Maksimalkan Lahan

0

 

PASTIBERITA – Pekebun kelapa sawit rakyat di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan. Penguatan teknik budidaya serta pemanfaatan lahan melalui tumpang sari dinilai menjadi langkah yang dapat dilakukan secara bersamaan.

Wakil Bupati OKU Marjito Bachari mengatakan peningkatan kapasitas pekebun menjadi bagian penting dalam mendorong pengelolaan kebun yang lebih produktif. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit bagi 174 peserta asal OKU Angkatan XXIV hingga XXIX di Hotel Beston Palembang, 26-31 Agustus 2026.

Pelatihan tersebut digelar melalui kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan dan IPB Training. Materi pelatihan mencakup berbagai aspek budidaya, mulai dari pemilihan bibit, pemeliharaan tanaman hingga pemupukan.

Marjito menilai pengetahuan yang diperoleh pekebun selama pelatihan dapat diterapkan untuk meningkatkan pengelolaan kebun di daerah masing-masing.

“Petani bisa berbudidaya secara optimal sehingga menghasilkan produksi yang maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan pekebun,” ujarnya.

Menurut Marjito, optimalisasi lahan juga penting dilakukan agar pekebun tidak sepenuhnya bergantung pada hasil sawit. Lahan di antara tanaman sawit dapat dimanfaatkan untuk menanam komoditas lain dengan sistem tumpang sari.

Terlebih bagi tanaman sawit yang belum menghasilkan, pemanfaatan ruang tersebut dapat memberikan nilai ekonomi tambahan bagi pekebun. Selain tanaman sela, pengembangan ternak seperti kambing juga dapat menjadi pilihan usaha pendamping.

“Ini menjadi nilai tambah bagi petani. Dengan mengoptimalkan lahan yang ada, kesejahteraan pekebun bisa ditingkatkan. Melalui pelatihan ini, narasumber juga dapat memberikan berbagai opsi kepada petani,” katanya.

Saat ini, luas perkebunan sawit rakyat di OKU diperkirakan mencapai 20 ribu hektare. Produktivitas rata-rata berada di angka sekitar 2 ton per hektare setiap bulan.
Marjito menyebut produktivitas tersebut sudah menunjukkan perkembangan dibandingkan kondisi beberapa tahun sebelumnya. Kendati demikian, peluang untuk meningkatkan hasil masih terbuka melalui penerapan budidaya yang lebih tepat.

Ia juga mengingatkan peningkatan produktivitas harus dibarengi dengan kepastian legalitas lahan serta pemahaman terhadap ketentuan yang berlaku dalam pengelolaan perkebunan.

Lead Trainer IPB Training Prof. Dr. Hariyadi, MS, mengatakan pengembangan perkebunan sawit harus berorientasi pada keberlanjutan. Menurutnya, keberhasilan perkebunan tidak hanya dilihat dari tingginya produksi, tetapi juga kemampuan menjaga kualitas dan kesinambungan usaha.

“Legalitas harus jelas. Produktivitas tidak hanya dari kuantitas, tetapi juga kontinuitas dan kualitas tanaman,” katanya.

Ia menjelaskan, pekebun perlu memperhatikan aspek lingkungan dalam menjalankan usaha, termasuk pengelolaan limbah dan penerapan sistem penelusuran dalam rantai produksi. Penggunaan pupuk hingga pemasaran hasil kebun juga perlu dikelola secara jelas.

Hariyadi menambahkan, keberlanjutan perkebunan turut dipengaruhi kualitas sumber daya manusia. Hubungan yang baik antara pemilik kebun, pekerja dan pemangku kepentingan harus menjadi bagian dari pengelolaan usaha.

“Harus memiliki solidaritas kepada pekerja sawit, memanusiakan manusia, serta menjaga hubungan antara pelaku, pekerja dan pemangku kepentingan. Yang terakhir, usaha sawit harus menguntungkan,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Perkebunan Sumatera Selatan Dian Eka Putra menyampaikan bahwa luas perkebunan kelapa sawit di Sumsel mencapai sekitar 1,3 juta hektare.

Perkebunan tersebut tersebar di hampir seluruh kabupaten dan kota. Sekitar 60 persen dikelola perusahaan, sedangkan sekitar 35-45 persen merupakan perkebunan masyarakat, baik melalui pola plasma, swadaya maupun kepemilikan langsung.

Dian menilai penerapan standar keberlanjutan, termasuk Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), menjadi tantangan yang perlu dipersiapkan pekebun ke depan.

Selain itu, pekebun diingatkan untuk meninggalkan praktik pembukaan dan peremajaan kebun dengan cara membakar. Metode tersebut dinilai berisiko terhadap lingkungan serta dapat berdampak pada kualitas udara.

“Kami mengimbau praktik budidaya dengan cara membakar harus dihilangkan. Lakukan dengan cara yang lebih baik dan tidak melanggar regulasi, karena bisa mencemari kualitas udara dan menimbulkan bahaya lainnya,” tegasnya.

Penguatan kompetensi, pemanfaatan lahan secara optimal dan penerapan prinsip perkebunan berkelanjutan diharapkan mampu menjadi fondasi bagi peningkatan produktivitas sawit rakyat sekaligus memperkuat kesejahteraan pekebun di OKU.(ril)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini